Sejarah

Posted By Aslam Maududy Atturraby on 15 April 2019


SEJARAH POLITEKNIK ACEH


Pasca bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 dan berakhirnya konflik bersenjata dengan ditandatanganinya MOU Helsinki 15 Agustus 2005 yang telah menelan korban jiwa hingga ratusan ribu, Aceh membutuhkan SDM-SDM yang handal untuk bangkit membangun kembali wilayahnya yang telah porak-poranda. Di sisi lain, Aceh merupakan wilayah yang kaya akan potensi alam. Namun sayang potensi SDA tersebut tidak termanfaatkan secara optimal karena minimnya SDM yang berkualitas. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan Aceh dari daerah lain suatu Politeknik dengan program diploma yang berkualitas internasional haruslah dibangun di Aceh.

Untuk itu Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berinisiatif  membangun kemitraan antar bangsa, pemerintah daerah, industri dan masyarakat untuk mendirikan Politeknik sejak tahun 2005. Pada tanggal 26 Mei 2005, The United State Agency for International Development (USAID) dan Chevron Corporation yang disaksikan oleh Wakil Pemerintah Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) Program Pengembangan Ekonomi Jangka Panjang di Aceh Pasca Tsunami dan Konflik Melalui Pengembangan Pendidikan Vokasi. Pembangunan Politeknik Aceh ini didukung penuh oleh masyarakat Aceh melalui dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Aceh dan DPR Kota Banda Aceh. Melalui Memorandum of Understanding telah ditandatangani bersama pada tanggal 23 April 2007, Pemko Banda Aceh bermitra dengan Chevron Corporation, USAID, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh/Nias (BRR), Pemprov NAD, dan Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia mendirikan Politeknik Aceh.

Kolaborasi antara pihak pemerintah dan swasta ini diwujudkan dengan penyediaan lahan 5,6 ha di Desa Pango Raya, Banda Aceh oleh Pemko Banda Aceh, Pemprov NAD dan BRR. Untuk pembangunan gedung Politeknik Aceh, Chevron menyumbang USD 5,000,000 dalam bentuk pembangunan Gedung Utama seluas 8350 m2. Pembangunan gedung yang dikoordinasikan oleh CHF Internasional, dimulai pada tanggal 26 Oktober 2007. USAID mendonasikan USD 5,000,000 untuk peralatan laboratorium, dan kantor, pengembangan dosen dan staf, serta biaya operasional selama tiga tahun pertama. Sementara Pemerintah Indonesia melalui Dirjen Pendidikan Tinggi menyumbang Rp 5 Milyar per tahun untuk pengembangan program studi Teknik Mekatronika dan pemberian beasiswa bagi Dosen untuk melanjutkan studi.

Politeknik Aceh resmi berdiri dengan keluarnya izin dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional Nomor 78/D/O/2008 tertanggal 22 Mei 2008. Kemudian Pembukaan Politeknik dimulai pada tanggal 28 Agustus 2008 dan kuliah perdana Politeknik Aceh dimulai pada tanggal 08 September 2008 untuk tahun ajaran 2008/2009. Pada tanggal 23 Februari 2009, Gedung Politeknik Aceh diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Untuk menjalankan operasional Politeknik Aceh, Pemerintah dan DPRK Kota Banda Aceh membentuk Yayasan Politeknik Aceh melalui Qanun no 2 tahun 2009 tentang Pembentukan Yayasan Politeknik Aceh, dan Peraturan Walikota Banda Aceh nomor 13 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Politeknik Aceh. Yayasan milik Pemerintah Kota Banda Aceh ini disahkan oleh Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia nomor AHU-1776.AH.01.04.Tahun 2009. Yayasan Politeknik Aceh ini bertanggung jawab untuk membina dan mengembangkan Politeknik, termasuk mengangkat dosen dan menunjuk Direktur Politeknik Aceh.

Direktur Politeknik Aceh sampai dengan sekarang:

1. Ir. Zainal Hanafi, M.M. (2008-2017)

2. Dr.Ir. Yuhanis Yunus, M.Eng. (2017-sekarang)

Di masa awal pendirian, Direktur Politeknik Aceh didukung oleh Swisscontact, NGO internasional dari Swiss, dalam mengembangkan pendidikannya. Selain itu, berbagai pakar dari Politeknik Manufaktur Bandung, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Caltex Riau, dan ATMI Solo dilibatkan mendisain kurikulum dan proses pembelajaran. Para dosen dan manajemen yang direkrut dari berbagai pelosok nusantara dilatih terlebih dahulu di Politeknik-Politeknik tersebut sebelum mereka berkiprah di Politeknik Aceh. Sehingga tidak heran pola pembelajaran di Politeknik Aceh mengikuti pola di Politeknik-Politeknik tersebut dengan menggunakan sistem blok, dimana mahasiswa belajar teori selama 1 pekan kemudian melakukan praktik selama 2 pekan. Proses belajar mengajar tersebut dilakukan secara penuh mulai dari hari Senin sampai dengan Jumat, dari pukul 08.00-16.00.

Sampai dengan saat ini, Politeknik Aceh telah membuka 5 Program Studi, yaitu:

  •   D3 Akuntansi
  •   D3 Teknik Elektronika Industri
  •   D3 Teknik Informatika
  •   D3 Teknik Mekatronika
  •   D4 Akuntansi Keuangan Publik

Dari program studi-program studi tersebut, diharapkan akan lahir para alumni yang berkompeten di bidangnya masing-masing dan berkiprah sesuai dengan kemampuannya dalam membangun nusa dan bangsa. Saat ini alumni Politeknik Aceh tersebar tidak hanya di Aceh atau di Indonesia saja, tetapi juga di mancanegara. (s1z)